Si kecil beranjak dewasa. Kini ia mulai bisa membaca realita. Semua yang ada ia ambil hikmahnya. Dari setiap fenomena, dari setiap kejadian yang ada di Indonesia selalu ia cari sisi baik dari pada sibuk mencari hal negatif sebagai referensi menjatuhkan seseorang.
***
Pagi itu, Ia lihat sekelilingnya. Didepan rumahnya gedung-gedung tinggi dan rumah-rumah mewah begitu menghalangi cahaya matahari yang hangat kerumahnya. Sepi, meski ia lihat banyak mobil tertata rapi didepan pelataran gedung dan rumah tersebut. Lalu sejenak ia kerlingkan matanya ke arah belakang rumah dimana gubuk-gubuk kecil dan rumah-rumah yang hamper roboh dipenuhi jiwa-jiwa pengharap keadilan sedang menunggu takdir Tuhan. Kontras terasa. Dua sisi yang berbeda ini hakikatnya memiliki satu organisasi didalamnya. Yakni keluarga.
Sering ia dengar keluh teman-temannya yang kaya harta dunia. Keluh tentang kesepian akan aktivitas keluarga. Dimana kedua orang tua mereka yang begitu disibukan mencari dunia hingga anaknya dialih perankan kasih sayangnya kepada pembantu atau pengasuh keluarga. Benarkah mereka kaya? Bahagiakan mereka dengan harta mereka? Tanya si kecil dalam hati.
Disamping itu. Tak jarang si kecil melihat atau mendengar teman-teman belakang rumahnya yang sebenarnya tak sedikit pun ada alasan untuk mereka bahagia. Bagaimana tidak, untuk menutupi kepala dari sengat matahari atau hujan pun mereka kewalahan karena seringkali atap rumah lusuh mereka bocor. Atau seringkali mereka meringis memegang perut karena lapar. Namun, tak kalah sering pula si kecil melihat mereka tersenyum riang diantas pangkuan ayah ibunya yang otomatis selalu ada. Kata ibu, orang tua mereka pengangguran. Mereka miskin. Namun perhatian mereka terhadap anak-anaknya begitu kaya.
Yaa.. keluarga. Organisasi terbesar dalam hidup manusia. Ia menjadi wadah pengembangan potensi manusia yang bersifat tak terbatas. Tak terkukung kepentingan politik yang biasa diberitakan media. Ia ber-AD/ART-kan Agama dan Budaya yang langsung tuliskan Sang Maha Kuasa. Seperti halnya pola dasar organisasi biasanya, dimana yang satu sakit, yang lain pula akan merasa sakit. Sebaliknya, dimana yang lain senang yang lain pula akan ikut merasakannya. Dan sikecil sadar, kebahagiaan memerlukan pengorbanan. Termasuk dalam kebahagiaan keluarga. Sepertihalnya kebagiaan hakiki yang diterima keluarga Nabi Ibrahim As. Dan tentu mereka dapatkan setelah pengorbanan yang mereka lakukan.
Ayah sikecil pernah bercerita tentang pengorbanan keluarga Nabi Ibrahim. Tentang pengorbanan Nabi Ibrahim memilih Allah SWT daripada ayahnya, yang terkenal sebagai pembuat berhala. Tentang pengorbanan jiwa raganya demi mempertahankan aqidahnya seperti saat beliau pergi menuju tempat peribadatan kaumnya yang sesat, untuk menghancurkan berhala-berhala mereka. Tak lupa tentang pengorbanan saat Allah SWT memerintahkan untuk menempatkan Hajar dan Ismail di sebuah tanah yang tandus di Bakkah. Dan yang paling terkenal, tentang pengorbanan Nabi Ibrahim mengurbanan Ismail, dan inilah qurban yang paling berat yang dirasakan oleh beliau. Karena anak yang sangat diharapkannya, ternyata setelah dewasa harus diqurbankan dengan cara disembelih.
Si ayah pun bercerita bahwa tak hanya Nabi Ibrahim yang melukan pengorbanan dalam keluarganya, anggota keluarganya pun tak kalah hebat pengorbanan mereka demi menjadikan mereka hamba yang ta’at kepada Allah SWT. Dimana Istri Nabi Ibrahim, Siti Hajar, rela berqurban jauh dari suaminya, jauh dari keramaian, mau ditempatkan ditempat yang sunyi, gelap dan tandus. Bukan karena perintah suami, tetapi ia yakin Allah tidak akan membiarkan dirinya dalam kebinasaan, selama ia taqarrub dan taat kepada-Nya.
Tak mudah memang, namun dari cerita tersebut si kecil sadar bahwa setiap kebahagiaan perlu pengorbanan. Dan si kecil sadar makna pengorbanan –atau dalam bahasa Peribadatan Qurban- sangat lah luas jika dimaknai. Setelah mendengar cerita ayahnya, si kecil menyimpulkan bahwa Qurban tak hanya diartikan suatu kegiatan menyembelin hewan pada kurun waktu yang ditentukan oleh al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalam pengertian luas, qurban bisa pula diartikan sebagai suatu bukti keimanan kita dengan mengikhlaskan hak kita untuk melaksanakan kehendak diri atas kehendaknya.
Oleh karena itu, pada hakikatnya seluruh ibadah yang kita lakukan adalah qurban. Saat shalat kita mengurbankan waktu dan perhatian, khusus ditujukan kepada Allah. Ketika shaum kita mengurbankan jiwa dan raga,menahan lapar dan dahaga, hanya untuk mengharapkan ridha Allah. Demikian juga saat mengeluarkan zakat, kita mengurbankan sebagian harta kita untuk Allah yang diberikan kepada yang berhaq. Manakala ibadah haji yang kita qurbankan adalah; harta, tenaga, kesempatan, keluarga, perusahaan, bahkan jiwa dan raga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar